TERAS INFORMASI — Empat putri Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dikenal memiliki kiprah menonjol di berbagai bidang strategis. Keempatnya—Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid—bukan hanya membawa nama besar sang ayah, melainkan juga membangun reputasi sendiri melalui prestasi dan profesi yang mencolok di tingkat nasional hingga internasional.
Alissa Wahid: Perumus Nilai Kemanusiaan
Sebagai psikolog, Alissa konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menjabat sebagai Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, komunitas lintas iman yang mengusung pemikiran dan nilai-nilai Gus Dur. Selain itu, Alissa dipercaya sebagai Duta SDGs Indonesia dan Komisaris Independen PT Unilever Indonesia, memperkuat perannya di sektor korporasi dan pembangunan berkelanjutan. Di berbagai forum nasional maupun global, ia aktif menyuarakan isu multikulturalisme, demokrasi, dan hak asasi manusia, dengan pandangannya kerap menjadi rujukan dalam diskusi toleransi dan keberagaman di Indonesia.
Yenny Wahid: Tokoh Politik dan Intelektual Publik
Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid dikenal luas sebagai politisi dan intelektual publik. Ia menjabat sebagai Direktur Wahid Institute, lembaga yang fokus pada penguatan demokrasi, toleransi, dan dialog antaragama. Yenny juga aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah bekerja sebagai jurnalis internasional di The Sydney Morning Herald. Pengalamannya meliputi sektor BUMN, ketika menjabat sebagai Komisaris Independen PT Garuda Indonesia, yang menunjukkan kemampuannya dalam tata kelola dan pengawasan korporasi.
Anita Wahid: Aktivis dan Pemikir Digital
Anita Wahid, putri ketiga Gus Dur, dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia dan peneliti. Ia aktif sebagai penggerak Gusdurian serta terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi kemanusiaan. Dengan rekam jejak akademik dan riset yang kuat terkait isu demokrasi dan sosial, Anita juga dipercaya sebagai Dewan Penasihat TikTok Asia Pasifik. Posisi ini menjadi bukti pengakuan terhadap pemikirannya tentang peran media digital sebagai ruang dialog, edukasi, dan kebebasan berekspresi di kawasan Asia Pasifik.
Inayah Wulandari Wahid: Seniman dengan Komitmen Sosial
Putri bungsu, Inayah Wulandari Wahid atau Inay, meniti jalur unik melalui dunia seni dan aktivisme. Ia dikenal sebagai seniman teater dan komedian stand-up yang sering menyisipkan kritik sosial dalam karyanya. Selain aktif di Positive Movement (PM) dan Gusdurian, Inay menjabat Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU serta pengurus Dewan Pengawas Greenpeace Indonesia, yang menegaskan komitmennya pada isu lingkungan dan kebudayaan.
Dengan latar belakang, prestasi, dan profesi yang beragam, keempat putri Gus Dur menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan sang ayah terus hidup melalui kontribusi nyata. Dari isu kemanusiaan, demokrasi, media, seni, hingga lingkungan, mereka menjadi representasi perempuan Indonesia yang berdaya, kritis, dan berpengaruh di ruang publik.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin
















