TERAS INFORMASI — Generasi X, yang lahir antara tahun 1970-an hingga awal 1980-an, tumbuh dalam lingkungan yang sederhana namun penuh makna. Mereka merasakan masa ketika hiburan bukan hal yang dinikmati sendiri, melainkan dirayakan bersama secara kolektif.
Televisi layar tabung hitam putih kala itu termasuk barang mewah. Anak-anak dan orang dewasa kerap berkumpul ramai-ramai di rumah tetangga yang memiliki perangkat tersebut – yang dianggap “lebih mampu” – hanya untuk menyaksikan acara favorit bersama-sama.
Selain televisi, sandiwara radio menjadi teman setia di malam hari. Suara tokoh yang keluar dari alat kecil tersebut mampu membangkitkan imajinasi pendengar, membuat mereka larut dalam cerita tanpa bantuan gambar. Seluruh keluarga sering duduk diam, menyimak dengan penuh perhatian seolah dunia luar berhenti sejenak.
Dalam urusan asmara, Generasi X mengenal romantika yang sederhana namun mendalam. Pacaran dilakukan dengan menulis surat tangan di kertas beraroma wangi; setiap kata disusun dengan hati dan perasaan sebelum dikirim melalui kantor pos. Menunggu balasan menjadi momen mendebarkan yang tak dapat digantikan oleh pesan instan masa kini.
Urusan keuangan dan administrasi juga masih bersifat manual. Mengirim uang dilakukan melalui wesel pos yang membutuhkan kesabaran dan kepercayaan. Surat resmi pun ditulis menggunakan mesin ketik dengan suara “tek-tok” khasnya, sebelum akhirnya muncul komputer layar tabung sebagai simbol modernisasi pada masanya.
Komunikasi jarak jauh juga memiliki cerita tersendiri. Telepon umum berbasis uang koin menjadi andalan untuk menyampaikan kabar penting. Mereka yang memiliki telepon di rumah sering menunggu nada dering dengan harapan kabar dari kerabat atau teman jauh, di mana setiap bunyi dering terasa sangat berarti.
Dalam hal transportasi, sepeda ontel menjadi kendaraan utama masyarakat kala itu. Jalanan dipenuhi dengan para pengendara yang mengandalkan sepeda untuk pergi ke sekolah, pasar, atau tempat kerja. Sepeda motor masih tergolong langka dan hanya dimiliki oleh sebagian kecil kalangan.
Untuk bepergian ke kota terdekat, mikrolet menjadi pilihan utama. Penumpang naik dari belakang, duduk berdesakan dan saling berhimpitan, bahkan tak jarang ada yang bergelantungan di bagian belakang kendaraan demi bisa menumpang.
Semua pengalaman tersebut membentuk karakter Generasi X yang tangguh, sabar, dan penuh rasa kebersamaan. Meski hidup di tengah keterbatasan teknologi, mereka tumbuh dengan nilai-nilai kehangatan, solidaritas, dan rasa syukur. Kenangan tersebut kini menjadi cerita berharga yang mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kemudahan, melainkan dari proses dan hubungan antarmanusia.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin
















