TAJUK TERAS INFORMASI — Bangsa yang besar tidak hanya dijaga oleh kekuatan senjata dan ekonomi, melainkan oleh kekuatan sosial dan moral yang menjadi fondasi persatuan. Dalam konteks Indonesia, sejarah telah membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu pilar terpenting penjaga keutuhan bangsa.
NU bukan sekadar organisasi keagamaan. Ia adalah benteng sosial, budaya, dan ideologis yang sejak awal berdiri tegak bersama Republik. Dari resolusi jihad hingga peran aktif menjaga moderasi Islam, NU telah menjadi garda terdepan dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap berpijak pada Pancasila dan kebhinekaan.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang patut diwaspadai bersama. NU diserang habis-habisan—bukan hanya secara langsung, melainkan melalui perang narasi. NU diframing secara negatif, dituduh berbagai hal, diprovokasi agar terpecah, bahkan diadu dengan umatnya sendiri. Serangan ini seringkali tidak kasat mata, namun bekerja secara perlahan dan sistematis melalui opini publik, media sosial, dan propaganda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya sederhana namun mendasar: mengapa NU terus menjadi sasaran?
Jawabannya adalah karena NU adalah benteng terakhir. Ketika NU kuat, Indonesia sulit digoyang. Sebaliknya, jika NU berhasil dilemahkan, Indonesia akan jauh lebih mudah dikuasai—baik oleh kepentingan ideologis sempit, ekstremisme, maupun agenda asing yang tidak selaras dengan kepribadian bangsa.
Sejarah dunia mengajarkan bahwa menghancurkan sebuah negara tidak selalu dimulai dari perang terbuka, melainkan dengan melemahkan institusi sosial yang paling dipercaya rakyat. NU, dengan jutaan jamaah, jaringan pesantren, dan nilai moderasinya, adalah tembok kokoh yang selama ini menghalangi skenario tersebut.
Oleh karena itu, pelemahan NU bukan sekadar konflik internal umat Islam. Ini adalah ancaman serius bagi stabilitas nasional. Melemahkan NU berarti membuka ruang bagi polarisasi, konflik horizontal, dan hilangnya penyangga kebangsaan yang selama ini menjaga keseimbangan antara agama dan negara.
Menjaga NU tidak berarti menutup mata dari kritik. Kritik adalah bagian dari kedewasaan demokrasi. Namun serangan yang bertujuan merusak, memecah belah, dan menghilangkan kepercayaan publik terhadap NU adalah bentuk pelemahan yang harus disadari bersama sebagai ancaman kolektif.
NU yang kuat adalah Indonesia yang utuh.
NU yang dirawat adalah NKRI yang selamat.
Jika benteng ini runtuh, jangan heran jika suatu hari kita kehilangan arah, kehilangan persatuan, dan kehilangan rumah besar bernama Indonesia.
Penulis : Syamsul Mu'in
Editor : Ahmad Sobirin
















