TERAS Sejarah — Pada masa Nabi Muhammad, hiduplah seorang sahabat bernama Al-Qomah. Ia dikenal sangat rajin beribadah: shalatnya tekun, puasanya rutin, dan sedekahnya pun tak pelit. Di mata orang-orang, Al-Qomah adalah teladan kebaikan.
Namun, suatu hari Al-Qomah jatuh sakit keras. Saat ajalnya mendekat (sakaratul maut), para sahabat mengunjunginya dan membimbingnya untuk mengucapkan kalimat tauhid:
“Lā ilāha illallāh…”
Anehnya, lidah Al-Qomah terasa berat.
Ia seperti terkunci.
Kalimat yang selama ini ia ucapkan dalam shalat, kini tak mampu keluar.
Para sahabat kebingungan dan melaporkan keadaan ini kepada Rasulullah. Beliau lalu bertanya:
“Apakah Al-Qomah masih memiliki orang tua?”
Para sahabat menjawab:
“Iya, wahai Rasulullah. Ibunya masih hidup.”
Maka Rasulullah meminta agar ibunya dipanggil.
*Penyebab yang Tak Disangka*
Ketika ibunya datang, Rasulullah bertanya:
“Bagaimana hubunganmu dengan Al-Qomah?”
Sang ibu terdiam, lalu menjawab dengan jujur:
“Wahai Rasulullah… ia rajin ibadah, tetapi ia sering membentakku, meninggikan suara, dan lebih mementingkan istrinya daripada aku. Aku tersakiti… dan aku marah kepadanya.”
Mendengar itu, Rasulullah bersabda bahwa murka orang tua dapat menjadi penghalang bagi seseorang di akhir hayatnya.
Beliau lalu memohon kepada sang ibu:
“Wahai ibu Al-Qomah, ridho-lah kepadanya.”
Awalnya sang ibu masih menahan sakit hatinya.
Namun setelah dinasihati tentang betapa dahsyatnya keadaan anaknya di sakaratul maut, hatinya luluh.
Dengan air mata, sang ibu berkata:
“Aku ridho kepadanya karena Allah dan Rasul-Nya.”
*Akhir yang Menggetarkan Hati*
Begitu keridhaan ibu terucap, para sahabat kembali membimbing Al-Qomah.
Kali ini, lidahnya menjadi ringan.
Dengan napas yang tersisa, Al-Qomah pun mampu mengucapkan:
“Lā ilāha illallāh…”
Tak lama kemudian, ia wafat dalam keadaan membawa kalimat tauhid.
*Hikmah Besar dari Kisah Al-Qomah*
Kisah ini mengandung pelajaran yang dalam banget:
1. Ibadah kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari akhlak kepada orang tua.
Rajin shalat dan puasa tidak cukup jika menyakiti ibu dan ayah.
2. Ridho orang tua punya pengaruh besar pada akhir hidup seseorang.
Restu mereka bisa jadi pembuka, murka mereka bisa jadi penghalang.
3. Sakaratul maut adalah saat kejujuran hidup diuji.
Yang tampak baik di luar, bisa punya urusan batin yang belum selesai.
4. Jangan tunda minta maaf pada orang tua.
Karena kita tidak pernah tahu kapan “detik terakhir” itu datang.Kisah Al-Qomah: Ibadah Rajin, Tapi Terhalang di Detik Terakhir
Pada masa Nabi Muhammad SAW, hidup seorang sahabat bernama Al-Qomah. Ia dikenal sangat rajin beribadah – shalatnya tekun, puasanya rutin, dan sedekahnya tak pelit. Di mata masyarakat, Al-Qomah adalah teladan kebaikan.
Namun suatu hari, Al-Qomah jatuh sakit keras. Saat ajalnya mendekat (sakaratul maut), para sahabat mengunjunginya dan membimbingnya untuk mengucapkan kalimat tauhid:
“Lā ilāha illallāh…”
Anehnya, lidah Al-Qomah terasa berat dan terkunci. Kalimat yang selama ini ia ucapkan setiap hari dalam shalat, kini tak mampu keluar dari mulutnya.
Para sahabat kebingungan dan melaporkan keadaan ini kepada Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya:
“Apakah Al-Qomah masih memiliki orang tua?”
Para sahabat menjawab:
“Ya, wahai Rasulullah. Ibunya masih hidup.”
Maka Rasulullah meminta agar ibunya dipanggil segera.
Penyebab yang Tak Disangka
Ketika sang ibu tiba, Rasulullah SAW bertanya:
“Bagaimana hubunganmu dengan Al-Qomah?”
Sang ibu terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan jujur:
“Wahai Rasulullah… ia memang rajin beribadah, tetapi seringkali membentakku, meninggikan suara, dan lebih mementingkan istrinya daripada aku. Hatiku tersakiti… dan aku merasa marah kepadanya.”
Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa murka orang tua dapat menjadi penghalang bagi seseorang di saat akhir hayatnya. Beliau kemudian memohon kepada sang ibu:
“Wahai ibu Al-Qomah, ridhoilah dia.”
Awalnya sang ibu masih menahan rasa sakit hati. Namun setelah dinasihati tentang betapa dahsyatnya keadaan anaknya di saat sakaratul maut, hatinya luluh.
Dengan air mata, sang ibu berkata:
“Aku ridho kepadanya karena Allah dan Rasul-Nya.”
Akhir yang Menggetarkan Hati
Begitu keridhaan ibu terucapkan, para sahabat kembali membimbing Al-Qomah untuk mengucapkan kalimat tauhid. Kali ini, lidahnya terasa ringan.
Dengan napas yang tersisa, Al-Qomah berhasil mengucapkan:
“Lā ilāha illallāh…”
Tak lama kemudian, ia wafat dalam keadaan membawa kalimat tauhid.
Hikmah Besar dari Kisah Al-Qomah
Kisah ini menyimpan pelajaran mendalam bagi setiap orang:
1. Ibadah kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari akhlak kepada orang tua. Rajin shalat dan puasa tidaklah cukup jika kita menyakiti hati ibu dan ayah.
2. Ridho orang tua memiliki pengaruh besar pada akhir hidup seseorang. Restu mereka bisa jadi pembuka jalan ke kebaikan, sedangkan murka mereka dapat menjadi penghalang.
3. Sakaratul maut adalah saat kejujuran hidup diuji. Yang tampak baik di luar belum tentu sempurna jika masih ada urusan batin yang belum diselesaikan.
4. Jangan tunda untuk meminta maaf pada orang tua. Karena kita tidak pernah tahu kapan “detik terakhir” akan datang.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










