TERAS INFORMASI — Edi Rizki Supandi (27), pemuda asal Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, memilih merantau ke Kota Bandar Lampung bersama tujuh rekannya untuk mengadu nasib dengan berjualan rujak bebek, kuliner yang mulai digemari masyarakat setempat.
Selama enam bulan terakhir, Edi berjualan dengan mangkal sederhana di bawah pohon jati pinggir Jalan Teuku Umar, dekat Kantor KAI Tanjung Karang. Meski lokasinya terbuka, semangatnya untuk bertahan di perantauan tidak pernah surut.
Setiap hari, ia melayani pelanggan dari berbagai kalangan dengan harga terjangkau dan cita rasa khas racikan sendiri, hingga dagangannya perlahan dikenal dan memiliki pelanggan tetap.
Edi tidak sendirian dalam usaha ini. Kakak kandungnya juga berjualan rujak bebek di lokasi berbeda, dekat TPU Jalan Imam Bonjol, Sukajawa, Tanjung Karang. Keduanya saling mendukung dan berbagi pengalaman.
Sebelum beralih ke rujak bebek, Edi telah berjualan petisan selama kurang lebih empat tahun. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam memahami selera konsumen dan bertahan di dunia usaha kecil. Ia memutuskan untuk beralih karena melihat peluang rujak bebek yang lebih menjanjikan, dengan bahan baku yang mudah didapat dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional yang terus meningkat.
Di balik perjuangannya, Edi memiliki harapan besar untuk masa depan. Ia telah memiliki tunangan yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan. “Insyaallah rencananya setelah pulang dari Taiwan tahun 2028 kami akan melangsungkan pernikahan. Sekarang sama-sama berjuang dan menabung dulu,” ujar Edi penuh harap. Kisahnya menjadi potret nyata perjuangan anak muda perantauan yang gigih meraih masa depan lebih baik.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin
















