Penulis : H. Maskut Candranegara, M.Pd, (Guru di SMA YP Unila – Bandar Lampung)
Dalam budaya Jawa, angka tidak hanya sekadar alat hitung, tetapi juga sarat dengan makna filosofis yang dalam. Setiap penyebutan angka sering kali dikaitkan dengan singkatan atau permainan kata yang menggambarkan perjalanan hidup manusia. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memandang kehidupan secara simbolik dan penuh perenungan, bahkan dalam hal yang tampak sederhana seperti angka.
Salah satu contoh yang menarik adalah angka selikur, yaitu angka 21 dalam bahasa Jawa. Kata “selikur” sering diartikan sebagai singkatan dari “siji lungguh ing kursi” atau “seneng lungguh kursi.” Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang mulai “duduk di kursi,” yang secara simbolik berarti mulai memiliki posisi atau kedudukan dalam kehidupan.
Secara filosofis, usia 21 tahun dianggap sebagai fase awal kedewasaan. Pada usia ini, seseorang biasanya mulai memasuki dunia kerja, memikul tanggung jawab, dan menentukan arah hidupnya. Ini adalah masa transisi dari remaja menuju dewasa, di mana seseorang mulai diakui keberadaannya dalam masyarakat.
Selanjutnya, ada angka selawe, yaitu angka 25 dalam bahasa Jawa. Selawe sering dimaknai sebagai singkatan dari “seneng-senenge lanang lan wedok.” Ungkapan ini menggambarkan masa di mana perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan sedang berada pada puncaknya.
Dalam konteks kehidupan, usia 25 tahun dianggap sebagai masa yang ideal untuk membangun hubungan yang serius, termasuk pernikahan. Pada fase ini, seseorang umumnya sudah lebih matang secara emosional dan mulai memikirkan kehidupan berkeluarga. Filosofi ini menekankan pentingnya keseimbangan antara perasaan dan tanggung jawab.
Kemudian terdapat angka seket, yaitu angka 50 dalam bahasa Jawa. Seket sering diartikan sebagai singkatan dari “seneng kethonan” atau “seneng kethu,” yang berarti senang mengenakan penutup kepala seperti kopiah. Ini melambangkan perubahan sikap hidup yang lebih religius.
Secara filosofis, usia 50 tahun adalah fase kematangan sejati. Pada tahap ini, seseorang biasanya mulai mengurangi ambisi duniawi dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Penggunaan kopiah menjadi simbol kesadaran spiritual dan keinginan untuk memperbaiki diri.
Berikutnya adalah angka suwidak atau sewidak, yang berarti 60 dalam bahasa Jawa. Kata ini sering dimaknai sebagai singkatan dari “sejatine wis wayahe tindak,” yang berarti sebenarnya sudah waktunya untuk pergi atau menghadap Tuhan. Ini bukan makna yang menakutkan, melainkan pengingat akan kefanaan hidup.
Selain itu, suwidak juga dimaknai sebagai “eling, legawa, lan siap,” yaitu mengingat, ikhlas, dan siap. Filosofi ini mengajarkan bahwa pada usia lanjut, manusia seharusnya lebih banyak merenung, menerima dengan lapang dada, dan mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan dengan tenang.
Dari berbagai makna angka tersebut, terlihat bahwa budaya Jawa mengajarkan perjalanan hidup manusia secara bertahap. Mulai dari masa mencari kedudukan, menemukan pasangan, mencapai kematangan, hingga akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Semua itu disampaikan dengan cara yang halus dan penuh makna melalui istilah angka.
Dengan demikian, istilah perhitungan angka dalam bahasa Jawa bukan hanya sekadar bahasa, tetapi juga cerminan nilai-nilai kehidupan. Filosofi ini menjadi warisan budaya yang mengajarkan manusia untuk memahami setiap fase hidup dengan bijaksana, penuh kesadaran, dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
![]()
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin




.png)










