Lampung Tengah Mengukir Prestasi: Prestasi Memalukan dan Memilukan

Ahmad Basri: Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan / K3PP

- Jurnalis

Kamis, 11 Desember 2025 - 22:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAJUK Teras Informasi — Kabupaten Lampung Tengah punya cerita. Kali ini bukan cerita tentang prestasi gemilang yang membanggakan, melainkan prestasi memilukan dan memalukan.

Prestasi yang membuat kita tertunduk karena rasa malu sekaligus marah. Seorang bupati kembali terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Luka lama itu terkuak lagi, noda korupsi kembali mengalir di wajah pemerintahan daerah.

Masyarakat Lampung Tengah tentu marah dan kecewa melihat Bupatinya dicokok KPK. Nama Lampung Tengah kembali tercoreng. Seperti menonton film lama, aktor berbeda, tapi endingnya selalu sama “pengkondisian” proyek dan “fee” haram dari uang rakyat.

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beberapa tahun lalu kita menyaksikan bupati lama ” Mustafa”, bupati muda penuh energi, tumbang karena praktik kotor yang sama. Kini Ardito, juga masih muda, menyusul dengan jejak dosa yang sama.

Keduanya terpilih dengan harapan baru, namun keduanya runtuh oleh ulah mereka sendiri. Korupsi mematahkan karir politik yang bahkan belum separuh jalan.

Baca Juga :  MK: Wartawan Tidak Boleh Langsung Dituntut Pidana atas Karya Jurnalistik

OTT KPK sebetulnya sebuah alarm keras. Peringatan yang mengingatkan seluruh kepala daerah di Indonesia. Jangan main-main dengan proyek APBD, jangan bermain api dengan manipulasi lelang, jangan menyalahgunakan kuasa demi memperkaya diri.

Entah mengapa, peringatan itu bagai angin lalu. Kepala daerah seolah tetap yakin bahwa “mereka tidak akan tertangkap”, sampai akhirnya tangan besi KPK menjemput mereka dari ruang kerjanya sendiri di rumah dinasnya.

Modusnya klasik, polanya lama, skenarionya tidak berubah, pengkondisian lelang ke satu kontraktor, setoran fee proyek, dan pemanfaatan kuasa untuk menciptakan “jalur khusus”. Yang berubah hanyalah nama pelakunya bukan pola kejahatannya.

Sering kali alasan pembenar tampil ke permukaan, biaya politik saat pilkada mahal, ongkos kampanye tidak sedikit, sehingga kepala daerah seolah “terpaksa” melakukan tindakan tercela.

Narasi ini sengaja dibangun untuk membenarkan kembali wacana kepala daerah dipilih oleh DPRD. Seolah-olah itu solusi moral, seolah-olah politisi di DPRD lebih steril dari praktek uang haram. Ruang yang penuh kesucian.

Baca Juga :  Kisah Al-Qomah: Ibadah Rajin, Tapi Terhalang di Detik Ajal

Padahal itu ilusi. Tidak ada jaminan sedikitpun bahwa kepala daerah yang dipilih DPRD akan bebas dari korupsi. Emang gratis? Tidak ada “mahar politik”? Omong kosong. Itu hanya memindahkan transaksi dari ruang publik ke ruang gelap yang lebih tersembunyi.

Justru yang paling menakutkan adalah skenario sebaliknya bahwa korupsi akan semakin sistemik. “Kongkalikong” antara bupati dan oknum DPRD akan makin menjadi-jadi.

Jika saat dipilih langsung saja mereka bisa bermain mata, apalagi bila DPRD diberi kewenangan penuh memilih kepala daerah. Itu seperti memindahkan barang busuk ke tempat yang lebih busuk.

Lampung Tengah seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa akar persoalan bukan pada mekanisme pemilihan kepala daerah, tetapi pada ekosistem politik yang sakit. Pada mentalitas kekuasaan yang korup dan serakah.

Penulis : Ahmad Basri : Ketua Kajian Kritis Kebijakan Pembangunan (K3PP)

Editor : Ahmad Sobirin

Follow WhatsApp Channel terasinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KABAR DUKA: Wafat Ning Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua PP Fatayat NU dan Ketua KPAI
Marwan Cik Asan Kunjungi Lokasi Pembangunan Kantor Koperasi Desa Merah Putih di Tiyuh Toto Mulyo
Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Pemkab Tubaba dan Bank Lampung Matangkan Program KUR Super Mikro
Kisah Al-Qomah: Ibadah Rajin, Tapi Terhalang di Detik Ajal
DPRD Lampung Dukung Revitalisasi Tambak Bumi Dipasena
Masyarakat Apresiasi Polres Tulang Bawang Barat Usai Ungkap Kasus Perampokan Senilai Rp 800 Juta
Dua Dermaga Eksekutif Bakauheni Siap Layani Arus Mudik Lebaran 2026
Wabup Nadirsyah Ajak Warga Perkuat Sedekah dan Kepedulian Lingkungan  
OTT KPK Bupati Lampung Tengah seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa akar persoalan bukan pada mekanisme pemilihan kepala daerah, tetapi pada ekosistem politik yang sakit. Pada mentalitas kekuasaan yang korup dan serakah.

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 15:38 WIB

KABAR DUKA: Wafat Ning Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua PP Fatayat NU dan Ketua KPAI

Sabtu, 28 Februari 2026 - 10:57 WIB

Marwan Cik Asan Kunjungi Lokasi Pembangunan Kantor Koperasi Desa Merah Putih di Tiyuh Toto Mulyo

Sabtu, 28 Februari 2026 - 09:59 WIB

Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Pemkab Tubaba dan Bank Lampung Matangkan Program KUR Super Mikro

Jumat, 27 Februari 2026 - 05:41 WIB

Kisah Al-Qomah: Ibadah Rajin, Tapi Terhalang di Detik Ajal

Rabu, 25 Februari 2026 - 22:12 WIB

DPRD Lampung Dukung Revitalisasi Tambak Bumi Dipasena

Berita Terbaru

Bandar Lampung

DPRD Lampung Dukung Revitalisasi Tambak Bumi Dipasena

Rabu, 25 Feb 2026 - 22:12 WIB