Tajuk Teras Informasi — Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) untuk menghormati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Beliau bukan sekadar sosok sejarah, melainkan simbol perlawanan terhadap eksklusivitas pendidikan kolonial yang dulu hanya bisa dinikmati oleh bangsawan dan keturunan Belanda. Pasca kemerdekaan, dedikasi beliau sebagai Menteri Pendidikan pertama dikukuhkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959, yang meresmikan tanggal lahirnya sebagai hari besar nasional.
Namun, perjalanan pendidikan kita saat ini, khususnya di tahun 2026, menghadapi realitas yang kontras. Jika dulu perjuangannya adalah agar semua orang bisa sekolah, kini tantangannya adalah memastikan kualitas sekolah tersebut setara. Meski secara kuantitas kita berhasil menyekolahkan hampir seluruh anak bangsa, mutu hasil belajar masih memerlukan perbaikan besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dunia pendidikan kita sedang berjuang melawan penyakit sistemik, salah satunya adalah kesenjangan digital. Di saat kurikulum menuntut inovasi teknologi, sekolah-sekolah di pelosok masih berjuang dengan infrastruktur yang rapuh, sinyal yang minim, dan perangkat yang rusak. Dampaknya, kemampuan analisis siswa belum optimal; sekitar 60% siswa masih terjebak pada metode hafalan dan kesulitan memahami teks yang kompleks.
Kondisi para pengajar pun tak kalah menantang. Guru sering kali terdistraksi dari tugas utamanya sebagai pendamping emosional, karena harus menjadi teknisi atau terjebak dalam kerumitan administrasi digital. Selain beban kerja, jurang kesejahteraan antara guru ASN/PPPK dengan guru honorer tetap menjadi masalah besar yang menghambat profesionalisme. Kondisi finansial yang belum stabil bagi sebagian besar pendidik adalah hambatan nyata bagi kemajuan pendidikan nasional.
Pendidikan sejati melampaui sekadar aktivitas di dalam kelas. Ia adalah tentang bagaimana negara menghargai para gurunya dan menjamin hak setiap anak untuk berkembang secara maksimal. Hardiknas 2026 menjadi pengingat penting bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 masih sangat panjang.
Dibutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat luas untuk memastikan tak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena perbedaan wilayah atau latar belakang ekonomi.
![]()
Penulis : Jutia Kharisma
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










