TULANG BAWANG BARAT (teras informasi) – Hobi manusia memang beragam, dan sering kali menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidup seseorang. Ada yang begitu mencintai hobinya hingga rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi. Tak jarang, seseorang bisa lupa makan hanya karena terlalu asyik dengan aktivitas yang ia sukai. Bahkan, demi menyalurkan hobi, isi dompet pun bisa ikut “terkuras” tanpa terasa.
Sebagian orang menyalurkan hobinya melalui olahraga, seperti sepak bola, bulu tangkis, atau lari maraton. Ada pula yang gemar memancing, menikmati ketenangan alam sambil menunggu kail disambar ikan. Di sisi lain, hobi touring dengan sepeda motor juga menjadi pilihan banyak orang yang mencintai petuang dan kebebasan di jalan raya.
Namun, setiap orang tentu punya pilihan hobi yang berbeda. Bagi saya, ada tiga hobi utama yang mewarnai perjalanan hidup: berenang, menulis, dan berorganisasi. Ketiganya bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, tetapi telah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan arah hidup.
Berorganisasi: Dari Kampus Hingga ke Tingkat Nasional
Hobi berorganisasi menjadi yang paling menonjol sejak masa mahasiswa. Dunia organisasi mulai saya tekuni ketika aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Dari sanalah saya belajar tentang kepemimpinan, manajemen, dan pentingnya jaringan sosial.
Perjalanan organisasi di masa mahasiswa tentu tidak selalu mulus. Saya pernah dipercaya menjadi Ketua Rayon Fakultas Syariah PMII Raden Intan. Namun, ketika mencoba melangkah lebih jauh untuk menjadi Ketua Komisariat, langkah tersebut harus terhenti karena belum berhasil meraih kepercayaan penuh.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi bekal berharga. Ketika memasuki dunia organisasi kepemudaan, saya bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor. Di sinilah perjalanan organisasi mulai menunjukkan arah yang lebih luas dan penuh tantangan.
Di GP Ansor, saya mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris PW GP Ansor Provinsi Lampung selama dua periode. Tak berhenti di situ, saya juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor selama dua periode hingga tahun 2010, mendampingi Ketua Umum Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Pengalaman tersebut menjadi titik penting. Hobi berorganisasi tidak lagi sekadar aktivitas, tetapi telah menjadi “candu” yang membentuk pola pikir, cara bertindak, dan cara melihat kehidupan. Dari organisasi, saya belajar bahwa pengabdian adalah nilai utama.
Setelah tidak lagi aktif di PP GP Ansor, kesempatan baru datang sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) PWNU DKI Jakarta. Selanjutnya, saya juga mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris PWNU Provinsi Lampung periode 2018–2023.
Momentum besar terjadi saat Muktamar NU ke-34 di Lampung tahun 2021. Setelah itu, saya dipercaya menjadi Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) untuk periode 2022–2027.
Jejak di Politik dan Keumatan
Aktif di organisasi kemasyarakatan membuka peluang di dunia politik. Pada 1998, saya sempat terlibat di PKB sebagai Wakil Bendahara DPW PKB Lampung dan Ketua Departemen Penghubung Ulama dan Pesantren DPP PKB.
Pada 2007, saya bergabung dengan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap keislaman PDI Perjuangan, hingga akhirnya dipercaya menjadi fungsionaris DPP PDI Perjuangan di Departemen Kebudayaan. Sejak 2016, saya juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga kini menjadi anggota Komisi Pesantren MUI Pusat periode 2025–2030.
Menulis: Gagasan yang Abadi
Selain organisasi, hobi menulis juga menjadi bagian penting. Sejak mahasiswa, saya aktif di dunia jurnalistik, mulai dari media cetak hingga online. Menulis bukan hanya sarana ekspresi, tetapi juga media menyampaikan gagasan.
Hobi ini berkembang hingga menulis buku. Beberapa karya yang pernah terbit antara lain “Taifik Kiemas di Mata Tokoh Islam” (2007), “Mereka Bicara Mega” (2009), “Kiat Sukses Memperoleh Adipura” (2011), hingga “Mengenang Kampung Halaman” (2024).
Pengabdian Tanpa Henti
Di luar itu, saya juga pernah mengabdi di berbagai lembaga, antara lain sebagai Tenaga Ahli Bupati Tubaba, Tenaga Ahli Ketua DPRD Provinsi Lampung, Manajer Unila Media, serta Guru Agama Islam di SMA YP Unila Bandar Lampung hingga saat ini.
Pada akhirnya, hobi bukan sekadar kesenangan. Ia bisa menjadi jalan hidup, bahkan ladang pengabdian. Dari berenang, menulis, hingga berorganisasi, semuanya memberikan pelajaran berharga bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani dengan passion, dedikasi, dan keikhlasan.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










