Opini TERAS INFORMASI — Semua bermula pada abad ke-19 di Amerika Serikat dan Eropa, saat Revolusi Industri sedang berada di puncaknya. Mesin-mesin uap mendengung, namun di baliknya, manusia diperlakukan layaknya onderdil mesin. Para buruh termasuk anak-anak dan perempuan dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak layak, selama 12 hingga 16 jam sehari, enam hari seminggu.
Kelelahan, kecelakaan kerja, dan penderitaan yang dialami menjadi makanan sehari-hari. Kondisi inilah yang memicu lahirnya kesadaran kolektif bahwa tenaga kerja memiliki posisi tawar yang mereka miliki bersama.
Sejarah Hari Buruh tidak lepas dari peristiwa berdarah di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat pada Mei 1886. Kala itu, kondisi kerja sangat memprihatinkan; para buruh dipaksa bekerja hingga 16 jam sehari dalam kondisi yang tidak layak. Federasi Organisasi Dagang dan Serikat Buruh Amerika kemudian menetapkan tuntutan standar kerja baru: 8 jam kerja, 8 jam rekreasi, dan 8 jam istirahat.
Pada 4 Mei 1886, sebuah aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi tragedi ketika sebuah bom meledak di tengah kerumunan polisi, memicu baku tembak yang menewaskan banyak orang baik dari pihak buruh maupun aparat. Peristiwa ini kemudian melahirkan simpati global dan memperkuat solidaritas pekerja internasional.
Tiga tahun setelah peristiwa Haymarket, tepatnya pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional di Paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur bagi para buruh di seluruh dunia. Keputusan ini diambil untuk memperingati para martir Chicago sekaligus menjadikan momentum tahunan bagi buruh untuk menyuarakan hak-hak mereka.
Memasuki tahun 2026, perjuangan buruh tidak lagi berkutat pada pabrik dan manufaktur. Dunia kini menghadapi tantangan Gig Economy dan otomatisasi.
Dulu musuh kita adalah jam kerja yang panjang di pabrik. Sekarang, musuh kita adalah algoritma yang tidak transparan dan ketidakpastian status hukum bagi para pekerja lepas digital. Isu perlindungan data pribadi pekerja, hak untuk menuntut ganti rugi, serta ancaman penggantian tenaga manusia oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini menjadi agenda baru dalam orasi di lapangan.
Sejarah Hari Buruh mengajarkan kita akan kesetaraan yang kita nikmati hari ini: seperti batasan jam kerja, adanya jaminan sosial (BPJS), hingga tunjangan harian tidak serta-merta turun begitu saja. Semuanya adalah hasil dari perundingan, tekanan, dan pengorbanan panjang di masa lalu.
Peringatan 1 Mei adalah pengingat bagi setiap pekerja bahwa kita adalah penggerak utama ekonomi bangsa yang berhak atas kehidupan yang layak dan bermartabat.
![]()
Penulis : Jutia Kharisma
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










