TERAS INFORMASI – Di era 1980–1990-an, hiburan dan komunikasi anak muda di perkampungan Indonesia memiliki warna tersendiri—sederhana namun penuh kesan mendalam. Salah satu yang paling melekat dalam ingatan banyak orang adalah komunikasi melalui radio intercom, yang menjadi sarana “nongkrong jarak jauh” murah meriah sekaligus mempererat hubungan antarwarga dari rumah ke rumah.
Berbeda dengan radio CB, ORARI, maupun RAPI yang mengharuskan biaya tidak sedikit untuk membeli perangkat seperti antena dan HT, intercom hadir sebagai alternatif komunikasi yang jauh lebih terjangkau. Saat itu, anak muda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa saling menyapa, berbagi cerita, dan bercanda setiap malam.
Cukup dengan intercom rakitan dan kabel kawat yang melintang di antara pohon atau tiang bambu di pinggir jalan perkampungan, jaringan komunikasi pun dapat terbentuk. Rumah yang ingin bergabung tinggal menyambungkan kabelnya ke jaringan yang sudah ada, kemudian langsung bisa terhubung dengan rumah-rumah lain di kawasan kampung tersebut.
Alat yang kerap disebut “alat ngebrik” ini sangat merakyat. Meskipun gaya komunikasi para penggunanya sering meniru radio amatir dengan sapaan khas dan etika berbicara tertentu, intercom sejatinya tidak menggunakan frekuensi radio. Ia bekerja melalui sambungan kabel sehingga jangkauannya terbatas hanya pada beberapa rumah atau beberapa kampung yang terhubung oleh kawat tersebut.
Keterbatasan jangkauan justru menjadi ciri khas yang membuat komunikasi terasa lebih akrab. Setiap suara yang terdengar biasanya berasal dari orang-orang yang saling mengenal. Tak jarang, intercom juga berperan sebagai media untuk berbagi kabar terkini, bercanda riang, hingga menyampaikan informasi penting bagi lingkungan sekitar.
Namun, jaringan kabel yang melintang di jalan dan pepohonan juga menyimpan risiko tersendiri. Bagi sebagian orang yang kurang menyukai keberadaannya, kawat bisa saja dipotong tanpa sepengetahuan anggota jaringan. Jika hal itu terjadi, komunikasi antaranggota akan terputus seketika.
Ketika jaringan terputus, para pengguna intercom biasanya beramai-ramai menelusuri jalur kabel untuk mencari titik yang bermasalah. Menyusuri gang kecil, pekarangan rumah warga, hingga tepi jalan kampung menjadi pemandangan yang lumrah kala itu. Aktivitas ini bahkan tak jarang menjadi momen kebersamaan baru yang semakin mempererat solidaritas antarwarga.
Kini, di tengah dominasi ponsel pintar dan berbagai platform media sosial, budaya berkomunikasi melalui intercom perlahan menghilang dari perkampungan. Meski demikian, kenangan indah era 80–90-an tentang keseruan “ngebrik” lewat kabel dari rumah ke rumah tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengalaminya—sebuah potret hangat tentang komunikasi sederhana yang sarat akan kebersamaan.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










