Teras Informasi — Pagi itu, saya memesan taksi online untuk menghadiri sebuah acara di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sekitar sebelas menit kemudian, mobil yang saya pesan tiba di depan Apartemen Midtown Cilandak, Jakarta Selatan, tempat saya menginap. Pengemudinya masih muda, ramah, dan murah senyum. Perjalanan pun dimulai dengan obrolan santai yang mengalir begitu saja hingga tak terasa kami hampir tiba di tujuan.
Tidak ada pertanyaan yang terkesan menginterogasi ataupun menggurui. Justru dari percakapan ringan itu, saya menemukan kisah hidup yang begitu inspiratif. Nama pengemudi itu Dimas, usianya baru 33 tahun. Di usia yang relatif muda, ia telah menjadi ayah dari empat putra dan putri. Di balik profesinya sebagai pengemudi taksi online, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan.
Dimas bercerita bahwa semasa kuliah ia pernah menekuni dunia balap mobil. Hobi yang memacu adrenalin itu bahkan sempat membawanya menjadi pembalap. Dalam masa itu pula ia bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya, seorang mahasiswi kedokteran. Setelah menikah, keduanya sepakat untuk segera memiliki anak tanpa menunda hingga kuliah selesai.
Namun, perjalanan rumah tangga mereka tidak langsung mulus. Sang mertua memberikan ultimatum yang mengubah arah hidup Dimas. Ia diminta memilih, tetap menjadi pembalap mobil atau mempertahankan rumah tangganya. Alasannya sederhana namun penuh makna, keluarga tidak ingin memiliki menantu dengan pekerjaan yang dianggap berisiko tinggi dan tidak menjamin masa depan istri serta anak-anaknya.
Keputusan itu tidak mudah. Dimas akhirnya meninggalkan dunia balap dan mulai bekerja sebagai sopir di sebuah toko grosir milik pengusaha Tionghoa. Hanya dalam waktu tiga bulan, atasannya melihat kecerdasan dan ketekunannya dalam memahami seluruh produk di gudang serta tujuan pengirimannya. Kepercayaan itu kemudian berbuah tawaran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bekerja di Tiongkok.
Meski diliputi dilema karena istrinya sedang mengandung dua bulan dan ia belum menguasai bahasa Mandarin, Dimas menerima tawaran tersebut demi masa depan keluarganya. Ia bekerja selama satu tahun di Tiongkok, kemudian kontraknya diperpanjang satu tahun lagi dan dipindahkan ke Mongolia. Di sana, ia juga menyaksikan bagaimana sebagian masyarakat Mongolia tetap menganggap diri mereka sebagai bangsa Mongolia, meskipun secara politik wilayah itu dipandang berbeda oleh pemerintah Tiongkok.
Setelah dua tahun bekerja, majikannya memberikan kesempatan pulang ke Indonesia dengan harapan Dimas akan kembali lagi ke Tiongkok. Namun, setelah berkumpul bersama keluarga, ia memutuskan untuk tetap tinggal di tanah air. Baginya, kebersamaan dengan istri dan anak-anak jauh lebih berharga daripada kembali merantau ke luar negeri.
Sekembalinya ke Indonesia, Dimas melanjutkan kuliah yang sempat tertunda selama dua tahun. Sementara itu, sang istri berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dan resmi menjadi seorang dokter. Dimas sendiri mampu menuntaskan kuliahnya dan meraih gelar Sarjana Hukum. Mereka kemudian membangun kehidupan bersama, sang istri mengabdikan diri sebagai dokter, sedangkan Dimas membuka usaha apotek. Meski memiliki usaha, ia tetap menjadi pengemudi taksi online untuk mengisi waktu sekaligus bertemu banyak orang.
Semangat belajar Dimas ternyata tidak berhenti sampai di situ. Ia kembali melanjutkan pendidikan Strata Dua di Universitas Indonesia pada Program Studi Kenotariatan. Pada September 2025, perjuangannya membuahkan hasil dengan dinyatakan lulus sebagai magister.
Di balik kemudi mobil taksi online yang saya tumpangi pagi itu, ternyata duduk seorang pria yang membuktikan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh profesi yang sedang dijalani, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak pernah menyerah menghadapi setiap tantangan kehidupan.
![]()
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin














