SEJARAH PANJANG HARI BURUH: DARI TUNTUTAN 8 JAM KERJA HINGGA MENJADI PERAYAAN GLOBAL

Oleh : Jutia Kharisma Koresponden TERAS INFORMASI

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Opini TERAS INFORMASI — Semua bermula pada abad ke-19 di Amerika Serikat dan Eropa, saat Revolusi Industri sedang berada di puncaknya. Mesin-mesin uap mendengung, namun di baliknya, manusia diperlakukan layaknya onderdil mesin. Para buruh termasuk anak-anak dan perempuan dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak layak, selama 12 hingga 16 jam sehari, enam hari seminggu.

 

Kelelahan, kecelakaan kerja, dan penderitaan yang dialami menjadi makanan sehari-hari. Kondisi inilah yang memicu lahirnya kesadaran kolektif bahwa tenaga kerja memiliki posisi tawar yang mereka miliki bersama.

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Sejarah Hari Buruh tidak lepas dari peristiwa berdarah di Haymarket, Chicago, Amerika Serikat pada Mei 1886. Kala itu, kondisi kerja sangat memprihatinkan; para buruh dipaksa bekerja hingga 16 jam sehari dalam kondisi yang tidak layak. Federasi Organisasi Dagang dan Serikat Buruh Amerika kemudian menetapkan tuntutan standar kerja baru: 8 jam kerja, 8 jam rekreasi, dan 8 jam istirahat.

Baca Juga :  Pemuda Brebes Merantau ke Bandar Lampung, Sukses Jual Rujak Bebek hingga Punya Pelanggan Tetap

 

Pada 4 Mei 1886, sebuah aksi protes yang awalnya damai berubah menjadi tragedi ketika sebuah bom meledak di tengah kerumunan polisi, memicu baku tembak yang menewaskan banyak orang baik dari pihak buruh maupun aparat. Peristiwa ini kemudian melahirkan simpati global dan memperkuat solidaritas pekerja internasional.

 

Tiga tahun setelah peristiwa Haymarket, tepatnya pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional di Paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur bagi para buruh di seluruh dunia. Keputusan ini diambil untuk memperingati para martir Chicago sekaligus menjadikan momentum tahunan bagi buruh untuk menyuarakan hak-hak mereka.

 

Memasuki tahun 2026, perjuangan buruh tidak lagi berkutat pada pabrik dan manufaktur. Dunia kini menghadapi tantangan Gig Economy dan otomatisasi.

Baca Juga :  Sertifikat PTSL Tidak Kunjung Jadi, Masyarakat Ringin Sari Pertanyakan Kinerja BPN Tuba

 

Dulu musuh kita adalah jam kerja yang panjang di pabrik. Sekarang, musuh kita adalah algoritma yang tidak transparan dan ketidakpastian status hukum bagi para pekerja lepas digital. Isu perlindungan data pribadi pekerja, hak untuk menuntut ganti rugi, serta ancaman penggantian tenaga manusia oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini menjadi agenda baru dalam orasi di lapangan.

 

Sejarah Hari Buruh mengajarkan kita akan kesetaraan yang kita nikmati hari ini: seperti batasan jam kerja, adanya jaminan sosial (BPJS), hingga tunjangan harian tidak serta-merta turun begitu saja. Semuanya adalah hasil dari perundingan, tekanan, dan pengorbanan panjang di masa lalu.

 

Peringatan 1 Mei adalah pengingat bagi setiap pekerja bahwa kita adalah penggerak utama ekonomi bangsa yang berhak atas kehidupan yang layak dan bermartabat.

 

 

 

 

Loading

Penulis : Jutia Kharisma

Editor : Ahmad Sobirin

Follow WhatsApp Channel terasinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bentuk Kebanggaan Sekolah: SMPN 1 Tulang Bawang Barat Dukung Adelia Faranisa Azni di CTV 2026
Raisya Aulia Jalani Pra-Kontrak Bersama Manajemen CTV, Langkah Nyata Mengukir Karier di Dunia Hiburan  
DPP PSI Resmi Cabut SK Lama, Tetapkan Susunan Baru DPD PSI Tulang Bawang Barat Periode 2025–2030
DPK APINDO Tulang Bawang Barat Mulai Safari Perusahaan, Kunjungan Perdana ke PT Huma Indah Mekar  
Sengketa Lahan Puluhan Tahun: Warga Candra Kencana Harus Relakan Tanah Garapan ke Pihak Bandar Dewa
Hari Kedelapan TMMD ke-129, Kodim 0412/LU Perkuat Ekonomi Desa Lewat Penyuluhan BUMDes, PAJALE, dan UMKM  
Gotong Royong Satgas TMMD & Warga Desa Baru Raharja: Pengecoran Gorong-Gorong Dikebut Agar Segera Bermanfaat  
Juru Bicara Laskar Gibran Minta Klarifikasi Istana soal Tata Letak Sidang Kabinet, Demi Jaga Marwah Kepresidenan

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Bentuk Kebanggaan Sekolah: SMPN 1 Tulang Bawang Barat Dukung Adelia Faranisa Azni di CTV 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:01 WIB

Raisya Aulia Jalani Pra-Kontrak Bersama Manajemen CTV, Langkah Nyata Mengukir Karier di Dunia Hiburan  

Senin, 27 Juli 2026 - 14:05 WIB

DPP PSI Resmi Cabut SK Lama, Tetapkan Susunan Baru DPD PSI Tulang Bawang Barat Periode 2025–2030

Senin, 27 Juli 2026 - 11:58 WIB

DPK APINDO Tulang Bawang Barat Mulai Safari Perusahaan, Kunjungan Perdana ke PT Huma Indah Mekar  

Kamis, 23 Juli 2026 - 00:49 WIB

Hari Kedelapan TMMD ke-129, Kodim 0412/LU Perkuat Ekonomi Desa Lewat Penyuluhan BUMDes, PAJALE, dan UMKM  

Berita Terbaru