TERAS INFORMASI — Pagi di sekolah selalu datang dengan cahaya yang lembut, menelusup di antara jendela kelas yang setengah terbuka. Angin membawa harum dedaunan dari halaman yang masih basah oleh embun. Di tempat aku mengajar, sebuah SMA yang riuh oleh suara remaja dan harapan, hidup berjalan dengan irama yang sederhana namun penuh makna. Di situlah hari-hariku berlabuh, di antara papan tulis, buku pelajaran, dan percakapan hangat di ruang guru.
Teman-teman guru seprofesi memanggilku dengan banyak sebutan. Namun yang paling sering terdengar tetaplah panggilan sederhana: Pak Maskut. Panggilan itu mengalir ringan dari bibir mereka, seperti sapaan akrab yang sudah lama tumbuh bersama waktu.
Ada pula yang memanggilku Ustadz. Mungkin karena aku mengajar pelajaran agama Islam, berdiri di depan kelas menjelaskan ayat-ayat suci, atau mengajak murid-murid merenungi makna hidup yang tak selalu tertulis di buku pelajaran. Dalam panggilan itu, terasa sebuah harapan: agar kata-kata yang kuucapkan bukan sekadar ilmu, melainkan juga cahaya kecil bagi hati mereka.
Sebagian lagi memanggilku Pak Haji. Gelar itu datang setelah langkah kakiku pernah menapaki tanah suci, ketika doa-doa pernah terbang bersama jutaan harap manusia di hadapan Ka’bah. Setiap kali panggilan itu terdengar, hatiku selalu teringat pada langit Mekah yang luas, pada air mata yang jatuh dalam sujud panjang.
Ada juga yang memanggilku Pak Kiyai. Entah sejak kapan sebutan itu melekat. Mungkin karena aku sering diminta menjadi imam ketika azan Dzuhur menggema dari masjid sekolah. Di antara saf-saf yang lurus, aku berdiri dengan hati bergetar, memimpin doa-doa sederhana yang kami titipkan kepada langit.
Begitu pula ada teman yang bahkan memanggilku dengan Babe. Mereka tahu persis setiap kali mendengar ceritaku tentang mudik ke Jakarta saat Lebaran tiba. Katanya, seperti orang Betawi jika sudah lama bercerita tentang hiruk-pikuk ibu kota dan kenangan keluarga yang menunggu di sana.
Lalu ada pula yang memanggilku Opa. Panggilan yang terdengar paling jenaka sekaligus paling hangat. Sebab setiap kali bertemu teman satu ini yang sudah punya anak, aku selalu bertanya dengan pertanyaan, “Bagaimana kabar cucuku hari ini?” Merekapun jawab serius “baik Opa”, dan sejak saat itu gelar Opa pun melekat padaku.
Aku sering tersenyum memikirkan semua panggilan itu. Setiap sebutan seperti cermin kecil yang memantulkan sisi-sisi kehidupan yang berbeda: guru, sahabat, sejawat, perantau, bahkan kakek dalam canda. Seakan-akan hidup memberi banyak nama untuk satu perjalanan yang sama.
Pada akhirnya, apa pun panggilan mereka, aku tetaplah seorang guru yang mencoba berjalan sederhana di lorong-lorong sekolah ini. Di antara suara bel pelajaran dan langkah kaki para siswa, aku belajar bahwa hidup bukan soal bagaimana orang memanggil kita. Melainkan bagaimana kita memberi arti pada setiap panggilan itu dengan ketulusan, dengan tawa, dan dengan hati yang selalu ingin berbagi kebaikan.
Penulis : Maskut CN
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










