Tulang Bawang Barat, (teras informasi) — Bulan April 2026 ini, Kabupaten Tulang Bawang Barat atau lebih dikenal dengan Tubaba genap berusia 17 tahun. Lahir dari rahim kebijakan otonomi daerah pada tahun 2009, Tubaba kini berada pada fase yang tidak lagi bisa disebut “anak-anak”, tetapi juga belum sepenuhnya matang sebagai daerah yang mapan.
Jika dianalogikan dalam fase biologis manusia, usia 17 tahun adalah masa remaja—fase pubertas—di mana pertumbuhan terjadi sangat cepat, tetapi sering kali belum diimbangi dengan kematangan emosi dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Tubaba hari ini berada di titik itu: tumbuh, bergerak, membangun, tetapi sekaligus diuji pada kedewasaan dalam mengelola arah pembangunan dan kepemimpinan.
Berbagai pembangunan fisik tampak nyata. Jalan, infrastruktur, ruang publik, hingga simbol-simbol arsitektural menjadi “etalase” kemajuan.
Semua itu dibingkai dalam filosofi NENEMO: Nemen (kerja keras), Nedes (pantang menyerah), dan Nerimo (ikhlas menerima hasil).
Namun, pertanyaannya: apakah pembangunan itu hanya berhenti pada simbol dan fisik semata? Ataukah telah menjelma menjadi karakter kepemimpinan dan budaya birokrasi yang matang?
Sejarah kepemimpinan Tubaba telah melalui beberapa fase: dari Bachtiar Basri, Umar Ahmad, Zaidirina dan Persada sebagai transisi, hingga kini berada di bawah kepemimpinan Novriwan Jaya.
Pergantian itu adalah keniscayaan demokrasi. Tetapi yang lebih penting bukan sekadar siapa yang memimpin, melainkan bagaimana karakter kepemimpinan itu dibangun dan diwariskan.
Di sinilah letak persoalan mendasar.
Pembangunan yang baik tidak pernah lepas dari kritik. Bahkan kritik adalah bagian dari vitamin demokrasi. Ia menjaga agar kekuasaan tidak kehilangan arah.
Namun dalam praktiknya, tidak semua pemimpin mampu menerima kritik dengan kepala dingin. Masih sering kita temui sikap alergi terhadap kritik.
Suara masyarakat sipil, LSM, maupun media kerap dipandang sebagai gangguan, bukan sebagai mitra. Kritik dibalas dengan sikap defensif agresif, bahkan emosional—“uring-uringan” yang justru menunjukkan ketidakdewasaan dalam memimpin.
Padahal, pemimpin yang besar justru lahir dari keberanian mendengar. Pemimpin yang berkarakter bukanlah mereka yang selalu benar, melainkan mereka yang bersedia dikoreksi. Bukan mereka yang anti kritik, tetapi yang mampu mengelola kritik menjadi energi perbaikan.
Tubaba di usia ke-17 ini tidak kekurangan pembangunan fisik. Yang mulai terasa langka justru adalah keteladanan dalam kepemimpinan: ketenangan dalam mengambil keputusan, kebesaran hati dalam menerima perbedaan, dan keberanian untuk mengakui kekeliruan.
Kita membutuhkan pemimpin yang tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif terhadap kritik, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai ruang pembenaran diri.
Pemimpin yang berkarakter adalah mereka yang mampu berdiri tegak di tengah tekanan, tidak goyah oleh pujian, dan tidak runtuh oleh kritik. Mereka menjadikan jabatan sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk mempertahankan citra semu.
Lebih dari itu, pemimpin yang berkarakter akan mampu menjembatani kepentingan: antara pemerintah dan rakyat, antara pembangunan dan keadilan, antara ambisi dan realitas.
Di usia yang ke-17 ini, Tubaba tidak hanya membutuhkan pembangunan yang “terlihat”, tetapi juga kepemimpinan yang “terasa”. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa megah bangunan yang didirikan, tetapi seberapa kuat karakter pemimpin yang membangunnya.
Selamat HUT ke-17 Kabupaten Tulang Bawang Barat. Saatnya beranjak dari sekadar membangun daerah—menuju membangun karakter kepemimpinan yang matang dan beradab.
![]()
Penulis : Ahmad Basri : Ketua Kajian Kritis Kebijakan Pembangunan (K3PP)
Editor : Ahmad Sobirin



.png)










