Khomeini dan Beberapa Pertanyaan

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid Sumber: Majalah Tempo No.23 Th.IX, 4 Agustus 1979

- Jurnalis

Jumat, 13 Maret 2026 - 01:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Khomeini dan Beberapa Pertanyaan

 

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sumber: Majalah Tempo No.23 Th.IX, 4 Agustus 197

 

TERAS INFORMASI — Kita pernah punya presiden hebat. Di usianya yang belum genap 40 tahun telah memiliki perspektif internasional yang sangat luas.

 

JARANG sejarah memunculkan pribadi seperti Ayatullah Ruhollah Khomeini. Seorang tua renta menjelang usia 82 tahun (menurut kalender hijriah) yang memberikan kesan bertentangan sekaligus.

 

Perwujudan kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsanya; perlambang teokrasi yang dianggap tak manusiawi bagi bangsa lain; simbol keberanian moral untuk menegakkan keadilan sosial; serta penggambaran seraut wajah raja filosof yang menginspirasi “kerajaan Tuhan (civitas Dei, seperti istilah St. Agustinus)” dengan dasar dari Republik Plato.

 

Begitu berbeda gambaran yang diberikannya, sehingga tak dapat tidak kita bertanya: siapakah Khomeini sebenarnya? Seperti kelainannya dengan sosok tua renta lain sebelum kematiannya, Mao Tse-dong (Mao Zedong), yang menyandang berbagai predikat: pejuang revolusioner romantis, tiran berdarah dingin yang membiarkan jutaan orang terbunuh atas nama revolusi, hingga politikus yang tidak setia pada teman seperjuangan.

 

Berbeda dari tokoh-tokoh yang dianggap “polos” dalam sejarah seperti George Washington dan Gandhi, kebesaran Khomeini dan Mao terletak pada kesimpangsiuran persepsi yang mereka timbulkan dalam benak umat manusia.

 

Bagaimana mungkin pemimpin agama yang gigih melawan despotisme monarki Pahlevi kemudian dengan mudah mengutuk musik? Bukankah ini merupakan despotisme moral yang lebih dahsyat bagi masyarakat modern yang dianggap hedonistis? Dapatkah dibenarkan pengadilan perkara berat yang dilakukan secara sumir belaka, yang hampir selalu berakhir pada hukuman mati tanpa kesempatan cukup untuk membela diri?

 

“Soal-soal Kecil”

 

Bagaimana harus dipahami kontradiksi antara penghargaan yang tulus akan derajat manusia dengan pandangannya yang membatasi ruang bergerak wanita? Dapatkah diterima akal sehat jika Khomeini sibuk dengan “soal-soal kecil” seperti siaran televisi dan pakaian wanita, padahal ia begitu gigih mempertaruhkan jiwa-raga untuk melestarikan nilai-nilai dasar seperti kemerdekaan, kebebasan, dan persamaan hak?

 

Begitu bersimpangsiur gambaran tentang agamawan yang disanjung sekaligus ditakuti ini, sehingga pertanyaan yang lebih tepat adalah: dapatkah kita mengetahui siapa Khomeini yang sebenarnya?

Baca Juga :  MUI Kota Jambi di Lantik Pengurus Masa Khidmat 2026–2031, dan Gelar Rakerda

 

Kesulitan memahami hakikat diri pejuang tua ini semakin diperbesar dengan ketidakjelasan suasana pemerintahan di Iran setelah tumbangnya pemerintahan Shahpur Bakhtiar dan pengungsian Shah Mohammad Reza Pahlevi yang belum jelas kesudahannya. Benarkah Perdana Menteri Mehdi Bazargan yang mengendalikan kehidupan bernegara sehari-hari? Jika tidak dan Khomeini yang memerintah secara nyata, bagaimana perbedaan kebijakan antara mereka diselesaikan?

 

Jika bukan kedua-duanya, siapakah pihak ketiga yang melaksanakan pemerintahan? Mengapa kebijakan yang dibuat Bazargan hari ini dengan mudah dibatalkan oleh Khomeini keesokan harinya? Mengapa seakan ada pemerintahan bayangan yang lebih berkuasa dari kabinet yang diangkat sendiri oleh Khomeini?

 

Lebih membingungkan lagi adalah munculnya kelompok yang tidak berpretensi memerintah tetapi mampu melumpuhkan pemerintahan. Kelompok Furqan (yang mampu membedakan kebenaran dari kesesatan) berhasil meneror tokoh-tokoh tangan kanan Khomeini melalui serangkaian penembakan dan pembunuhan. Belum lagi perkelahian antara kelompok yang menentang hak-hak wanita (sebagaimana dipahami di Barat) dengan yang memperjuangkannya, yang sering berakhir dengan bentrokan di jalan raya.

 

Masih belum jelas juga kebijakan seputar kehidupan perekonomian. Bunga uang dilarang, tetapi belum ada solusi untuk pembiayaan lembaga perbankan dan penyediaan laba bagi pemegang saham. Perusahaan besar dinasionalisasi, tetapi belum ada pedoman tentang peranan modal asing di masa depan. Koperasi dikumandangkan, tetapi pengaturan dan pengelolanya masih tidak jelas (apakah para mullah atau manajer yang kompeten?).

 

Dewa Penolong Atau Setan

 

Namun, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memahami rangkaian kejadian yang bersimpangsiur itu, yaitu dari sudut pengakuan terhadap identitas pribadi Khomeini dan peranannya dalam kehidupan bangsa Iran saat ini dan masa depan. Hal ini sering dilupakan karena kita cenderung memandang seseorang hanya dari satu sisi.

 

Mereka yang mendukung pandangan keagamaan Khomeini – termasuk soal-soal yang paling “kecil” – memandangnya sebagai dewa penolong yang tidak mungkin salah; semua yang dikatakan dan diperbuatnya mutlak benar. Sebaliknya, mereka yang tidak menyetujui sistem nilai yang dianutnya menganggap Khomeini sebagai setan jahat yang membawa Iran ke zaman kegelapan, sehingga cita-cita luhur kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkannya selama puluhan tahun tidak diperhitungkan lagi.

Baca Juga :  GP Ansor dan Fatayat NU Ranting Daya Sakti Gelar Pawai Songsong Ramadhan

 

Kita harus membedakan kedua sisi pandangan ini untuk memahami hakikat dirinya. Ia membawakan moralitas sosial yang mendasar dengan watak politik, seperti marxisme yang juga merupakan moralitas politik. Michel Foucault tepat menyebut perkembangan protes keagamaan yang berwajah politik ini dengan sebutan “spiritualite politique” (kerohanian berdimensi politik), sebagaimana dikemukakannya dalam ulasan tentang kematian Dr. Ali Shariati – pejuang dini melawan Shah Iran yang dibunuh oleh Dinas Rahasia SAVAK saat dibuang di London.

 

Namun, sebagai agamawan yang bertekad menyelamatkan kehidupan ukhrawi manusia dari kerusakan moral, Khomeini memiliki pandangan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kehidupan bernegara modern yang ditularkan oleh kebudayaan Barat – dengan kenisbian moralitas yang dijalin dengan penguasaan teknologi dan produknya.

 

Dalam jangka panjang, perkembangan di Iran akan ditentukan oleh kesanggupan Khomeini (dengan dorongan orang lain) untuk mencari keseimbangan antara keyakinan dasar yang diperjuangkannya dan kepercayaan keagamaannya yang sarat dengan pengaturan moralitas individual secara kaku.

 

Perkembangan di sana juga akan ditentukan oleh kesediaan bangsa Iran mengikuti upaya melestarikan nilai-nilai dasar yang diperjuangkan, atau meninggalkannya jika upaya tersebut justru mengurangi nilai-nilai tersebut dengan menerapkan kaidah moral secara berlebihan dalam kehidupan perorangan dan berbangsa.

 

Dalam proses bagaimana Khomeini memainkan peran sejarahnya dan bagaimana bangsa Iran menanggapinya, terletak arti perkembangan di Iran bagi dunia. Dunia akan memberikan kutukan dan celaan jika apa yang dilakukan Khomeini membawa Iran ke dalam kemelut berdarah lebih jauh. Namun, dunia akan menghormatinya jika ia mampu membawa bangsa Iran ke gerbang kemerdekaan yang langgeng dan sebenarnya – di mana semua warga negara bebas mengembangkan kehidupan yang diinginkan. Tidak hanya itu, penghormatan juga akan diberikan kepada Islam sebagai medium ideologis yang membawa bangsanya kepada kesejahteraan yang nyata.

 

Bukankah terlalu tergesa-gesa bagi kita untuk merasa ketakutan atau sebaliknya bergembira dengan perkembangan di Iran? Lebih jauh lagi, bukankah terlalu pagi untuk mengukur Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan hanya dari perkembangan yang ditimbulkan oleh Khomeini?

Loading

Penulis : Maskut CN

Editor : Ahmad Sobirin

Follow WhatsApp Channel terasinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rayakan Double Anniversary, Tubaba Fun Run 2026 Siap Gebrak Pasar Pulung Kencana!
Lepas Purna Bhakti Inspektur Perana Putera, Bupati Tubaba Bagikan “Rumus 10 Tahun” Jelang Pensiun
PADAT! Bandara Soetta Ramai Penumpang Arus Balik Lebaran
Kabar Duka: Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono Berpulang
RIBUAN UMAT MUSLIM SHOLAT IDUL FITRI 1447 H DI GRAND DEPOK CITY
Pemerintah Tulang Bawang Barat Undang Masyarakat Hadiri Sholat Idul Fitri 1447 H
Hilal 29 Ramadhan 1447 H Tidak Memenuhi Kriteria Imkanur Rukyah
LF PBNU: Hilal 29 Ramadhan Belum Memenuhi Kriteria, Minta Kemenag Konsisten dengan Peraturan

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:34 WIB

Rayakan Double Anniversary, Tubaba Fun Run 2026 Siap Gebrak Pasar Pulung Kencana!

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:35 WIB

Lepas Purna Bhakti Inspektur Perana Putera, Bupati Tubaba Bagikan “Rumus 10 Tahun” Jelang Pensiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 08:53 WIB

PADAT! Bandara Soetta Ramai Penumpang Arus Balik Lebaran

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:11 WIB

Kabar Duka: Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono Berpulang

Sabtu, 21 Maret 2026 - 08:10 WIB

RIBUAN UMAT MUSLIM SHOLAT IDUL FITRI 1447 H DI GRAND DEPOK CITY

Berita Terbaru

Daerah

PADAT! Bandara Soetta Ramai Penumpang Arus Balik Lebaran

Minggu, 29 Mar 2026 - 08:53 WIB