Tahun Baru Imlek: Perayaan Penting yang Sarat Makna dan Tradisi

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 14:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TERAS INFORMASI, JAKARTA – Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia. Perayaan ini menandai pergantian tahun berdasarkan kalender lunar, yang perhitungannya mengikuti siklus bulan dan matahari. Dalam tradisi Tionghoa, Imlek bukan sekadar momen pergantian waktu, melainkan juga saat berkumpul keluarga, menghormati leluhur, serta memanjatkan harapan akan rezeki, kesehatan, dan keberuntungan di tahun yang baru.

 

Sejarah dan Asal Usul

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Sejarah Imlek berakar dari peradaban kuno di Tiongkok, yang sejak ribuan tahun lalu mengandalkan kalender lunar untuk menentukan musim tanam dan panen. Masyarakat agraris pada masa itu merayakan berakhirnya musim dingin dan menyambut musim semi sebagai simbol kehidupan baru. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi perayaan tahunan yang sarat ritual.

 

Legenda populer juga ikut membentuk warna perayaan Imlek, salah satunya kisah tentang makhluk buas bernama Nian yang konon muncul setiap akhir tahun untuk mengganggu penduduk desa. Untuk mengusirnya, warga menggunakan warna merah, cahaya, dan suara bising—yang kemudian melahirkan tradisi memasang dekorasi merah serta menyalakan petasan dan kembang api yang hingga kini identik dengan Imlek.

Baca Juga :  MK: Wartawan Tidak Boleh Langsung Dituntut Pidana atas Karya Jurnalistik

 

Perayaan di Seluruh Dunia

 

Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya dirayakan di Tiongkok, tetapi juga di berbagai negara yang memiliki komunitas Tionghoa atau pengaruh budaya Tionghoa yang kuat. Di Asia Tenggara, Imlek dirayakan meriah di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selain itu, perayaan ini juga berlangsung di negara-negara dengan diaspora Tionghoa besar seperti Amerika Serikat dan Australia.

 

Di Indonesia sendiri, Imlek memiliki sejarah panjang yang sempat mengalami pasang surut. Perayaan ini pernah dibatasi di ruang publik pada masa tertentu, sebelum akhirnya kembali dirayakan secara terbuka dan menjadi hari libur nasional. Kini, perayaan Imlek di berbagai kota besar diramaikan dengan barongsai, lampion, hingga festival kuliner, sekaligus menjadi ajang perjumpaan lintas budaya.

 

Tradisi Angpau yang Mendalam

 

Salah satu tradisi paling dinantikan saat Imlek adalah bagi-bagi angpau, yakni amplop merah berisi uang yang diberikan kepada anak-anak atau anggota keluarga yang belum menikah. Tradisi ini berakar dari kebiasaan orang tua memberikan uang keberuntungan sebagai simbol doa agar penerima terhindar dari marabahaya dan mendapat rezeki sepanjang tahun. Warna merah pada angpau melambangkan kebahagiaan, keberanian, dan penolak bala.

Baca Juga :  JEMBATAN RUSAK DI TIYUH INDRALOKA JAYA GANGGU AKSES WARGA, KEPALO TIYUH MINTA PERHATIAN SERIUS PEMERINTAH

 

Dalam cerita rakyat, asal-usul angpau juga dikaitkan dengan upaya orang tua melindungi anak dari gangguan roh jahat dengan memberikan koin yang dibungkus kain merah. Seiring waktu, koin tersebut berubah menjadi uang kertas dalam amplop merah yang lebih praktis, namun maknanya tetap sama: berbagi berkah dan harapan baik. Nilai uangnya bukan yang utama, melainkan simbol kasih sayang dan doa.

 

Adaptasi di Era Modern

 

Di era modern, perayaan Imlek terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Selain tradisi keluarga dan ritual keagamaan, perayaan ini kini juga menjadi bagian dari kalender pariwisata dan ekonomi kreatif di berbagai negara. Namun di balik gemerlap perayaan, esensi Imlek tetap bertumpu pada nilai kebersamaan, penghormatan pada tradisi, serta semangat berbagi—yang tercermin kuat dalam kebiasaan memberikan angpau.

Loading

Penulis : Maskut CN

Editor : Ahmad Sobirin

Follow WhatsApp Channel terasinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HUT ke-81 TNI, Kodim 0412/Lampung Utara Tegaskan Budaya Pengabdian PRIMA
Ketika Dapur Bertemu Aturan, Kepala SPPG Dihadapkan pada Dinamika Kebijakan
DPD PSI Tubaba Siap Terima Konsolidasi Pra-Verifikasi DPW PSI Lampung
Dandim Cup 2: 625 Kicau Mania Padati Makodim 0412/LU, Pererat Silaturahmi TNI–Rakyat
Sinergi TNI Kawal Pilkati Serentak, Babinsa Hadiri Pelantikan KPPS Tiyuh Margomulyo  
HUT ke-81 TNI: Kodim 0412/LU Gelar Donor Darah, Sunatan Massal & Bantuan Sembako
DPP HMD-GEMAS Kirim Somasi, Minta Klarifikasi & Penghentian Operasional SPPG Patoman
Wamen Transmigrasi Silaturahmi dengan PATRI Lampung, Perkuat Komitmen Bangun Kawasan Transmigrasi

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:46 WIB

HUT ke-81 TNI, Kodim 0412/Lampung Utara Tegaskan Budaya Pengabdian PRIMA

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:33 WIB

Ketika Dapur Bertemu Aturan, Kepala SPPG Dihadapkan pada Dinamika Kebijakan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:46 WIB

DPD PSI Tubaba Siap Terima Konsolidasi Pra-Verifikasi DPW PSI Lampung

Senin, 28 September 2026 - 06:55 WIB

Dandim Cup 2: 625 Kicau Mania Padati Makodim 0412/LU, Pererat Silaturahmi TNI–Rakyat

Sabtu, 26 September 2026 - 09:11 WIB

Sinergi TNI Kawal Pilkati Serentak, Babinsa Hadiri Pelantikan KPPS Tiyuh Margomulyo  

Berita Terbaru